Saturday, December 12, 2015

Nilai UTS dan UAS Semester Gasal 2015

Diberitahukan bagi mahasiswa yang merasa nilai UTS/UAS kurang dari 60, silahkan temui dosen Pengampu secepatnya!

Genetika
Nilai UTS Genetika A dapat dilihat di sini
Nilai UTS Genetika B dapat dilihat di sini
Nilai UTS Genetika C dapat dilihat di sini

Teknologi Pengolahan Hasil Ternak
Nilai UTS TPHT B dapat dilihat di sini

Teknologi Pengolahan Hasil Ikutan Ternak
Nilai UAS TPHIT B dapat dilihat di sini
Nilai UAS TPHIT C dapat dilihat di sini

Pemuliaan Ternak
Nilai UTS Pemuliaan Ternak A dapat dilihat di sini
Nilai UTS Pemuliaan Ternak B dapat dilihat di sini

Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak
Nilai UAS Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak B dapat dilihat di sini
Nilai UAS Abatoir dan Teknik Pemotongan Ternak C dapat dilihat di sini

Biologi
Nilai UAS Biologi C dapat dilihat di sini

Monday, September 28, 2015

Friday, May 8, 2015

Materi Kuliah [Cahyadi-Genap 2015)

Berikut adalah materi kuliah untuk ujian kompetensi dasar III (UKD III) dan UKD IV yang diampu oleh Dr.agr. Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech.

Dasar Pemuliaan Ternak
Pertemuan 1
Pertemuan 2 dan 3
Pertemuan 5
Pertemuan 6

Peserta Remidi KD III harap menemui dosen pengampu paling lambat hari Senin, 15 Juni 2015.

ttd.

Dr.agr. Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech.

Berikut adalah daftar nilai UKD III:
Kelas A
Kelas B
Kelas C

Mikrobiologi Peternakan
Pertemuan 1
Pertemuan 2
Pertemuan 3
Pertemuan 5
Pertemuan 6

Dasar Teknologi Hasil Ternak
Pertemuan 1, 2 & 3
Pertemuan 5, 6 & 7

Bioteknologi Peternakan
Pertemuan 1

Friday, April 5, 2013

Refleksi 1 Tahun di Korea

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Maret 2012 lalu, tepatnya tanggal 4 Maret saya tiba di Korea untuk melanjutkan studi di Department of Animal Science & Biotechnology, Chungnam National University - Daejeon. Campur aduk rasanya bisa sekolah di luar negeri yang memang sudah saya cita-citakan sejak dibangku kuliah dulu.
Mas Dosen UNS (kiri) & Mas Dosen UGM (kanan)
Tak terlalu susah buat saya untuk sampai di Daejeon, setibanya di Incheon International Airport sahabat saya telah siap mengantarkan ke kota tujuan. Sang sahabat meminjamkan jaket tebal ala “winter” dan dengan sigapnya langsung membeli tiket bus seharga 21.000 Won/orang, maklum saja suhu masih sekitar minus 2 drajad. Sunggu beruntung saya ini, tanpa Won sepeser pun bisa “survive” di negeri orang. Kami menunggu kedatangan bus sekitar 20 menit. Kesan pertama yang saya simpulkan adalah begitu tepat waktunya transportasi publik negara ini, standar deviasi (SD) atas ketepatan waktu kedatangan atau keberangkatan hanya dalam hitungan detik. Kapan ya Indonesia bisa?
Limousin Airport Bus
Butuh waktu sekitar 3 jam dari Airport menuju Daejeon. Sepanjang perjalanan menuju Daejeon saya hanya terpaku menatap pemandangan yang terpapar di depan mata, masih terasa seperti mimpi bisa menginjakan kaki di negara empat musim. Tak terasa mata tak kuat lagi menahan kantuk, 6 jam di pesawat saya tak bisa tidur sama sekali, akhirnya saya pun tertidur. Setibanya di Daejeon, dosen saya (Fapet UGM) sudah siap jemput. Saya hanya ikut “nginthil” sahabat saya, sekali lagi maklum saya belum bisa baca-tulis-ngomong korea (Hangeul). Akhirnya kami bertemu dan naik Taksi menuju asrama CNU. Untuk mendapatkan kode masuk asrama, saya harus menyerahkan hasil rontgen kepada pengelola Dormitory. Saya mendapat kamar nomor 803 (gedung 8 lantai 8 kamar no 3).
Main Gate CNU
Negeri Gingseng ini memberikan kesan pertama yang cukup baik, terutama untuk pelayanan publik. Transportasi yang tersistem dengan luar biasa baik, sistem pendataan penduduk yang terintegrasi, dan masih banyak lagi kecanggihan sistem lainnya.
Poin pertama yang bisa saya ambil ketika perjalanan dari Incheon international airport menuju Daejeon adalah bahwa negeri ini jauh dari kata subur, malah terkesan gersang, mungkin dikarenakan baru saja selesai musim dingin. Dalam benak saya terpikir, negara kering-kerontang yang minim sumber daya alam begini saja bisa maju, kenapa Indonesia yang "super" kaya tidak bisa? oh negeriku, ada apa denganmu? #Masalah pertama yang harus diselesaikan ketika berkarya di tanah air suatu saat nanti, semoga Allah SWT meridhoi aamiin...
Tiga bulan pertama di Korea, sambil beradaptasi dengan lingkungan yang baru, sesekali saya mengamati harga produk pertanian di Korea. Saya begitu takjub ketika menemui buah mangga yang harganya sekitar 35 ribu Rupiah atau buah semangka yang seharga 200 ribu Rupiah. Dalam hati menggumam, mahal sekali harganya?? Coba kalau di Indonesia petani bisa menikmati harga setinggi di Korea, bisa sangat sejahtera mereka. #Masalah kedua yang saya garis bawahi, bagaimana caranya kesejahteraan Petani Indonesia dapat ditingkatkan..
Tiga bulan kedua, saya mulai banyak pekerjaan di laboratorium, acara jalan-jalan & mengunjungi teman mulai dikurangi. Di tahap ini saya mulai keteteran dengan tugas kuliah, presentasi seminar, report penelitian, menulis paper, menyiapkan data untuk conference & so on.. Belum lagi sang supervisor menuntut banyak di semester pertama ini. Tapi alhamdulillah semua dapat diatasi dengan cukup baik, satu buah paper lokal bisa di-published & 2 essay diikutkan dalam conference. 
Tiga bulan ketiga, Saya mulai mendaptkan ritme bagaimana bekerja dengan orang Korea. Mereka memiliki etos kerja yang sangat tinggi, saya pun ikut-ikutan mainstream, lembur hingga larut malam, walaupun terkadang hanya browsing jurnal dan sengaja online untuk saling sapa dengan rekan-rekan. Kerja keras yang selama ini menjadi rutinitas akhirnya menghasilkan data yang cukup memusakan. Saya sangat berharap bisa membuat tulisan dengan kualitas internasional dengan data ini, aamiin.
Tiga bulan keempat di Korea, saya benar-benar sudah enjoy di Korea. Fasilitas riset yang sangat memadai, sampel yang cukup besar, dan tentu saja tidak perlu mikir biaya penelitian membuat saya sangat senang berada di laboratorium. Saya bisa mengeksplor & merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Semoga setibanya di Indonesia nanti dapat menghasilkan karya yang lebih baik, aamiin.
Akhir kata, setahun di Korea sudah cukup membuat saya terkesan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mengutip penggalan kata yang sering disampaikan para Ustadz & guru "Niatkan segala aktivitas dalam rangka beribadah kepada Allah SWT", maka Anda akan ringan dan merasa enjoy melaksanakannya ^^

Salam,
Cahyadi

Monday, April 1, 2013

Attending of PAG Asia 2013 Conference in Singapore

At 16 to 19 March 2013, I got an opportunity to visit Singapore for attending Plant and Animal Genome (PAG) conference. This conference was originally held in San Diego USA, but, for some reasons this conference was also organized in Singapore. It is became the first PAG conference which was held in Asia. Before I go to describe this conference more, I would like to share our journey in details.
Firstly, I would like to inform you that I went to Singapore with my lab mate members. Also, my professor was joint with us. We departed from Daejeon Cheongsa Express Bus Terminal at 09.26 am in Korean time. The first destination was Incheon Int'l Airport. Daejeon to Incheon needed around 2 hours. In Incheon, my professor suggested to make Skypass member card before we checked-in for baggage. This card is very valuable for everyone who will fly with Korean Air. Card holders will get some benefits. For example, my professor told me that I will get free ticket to go to Jeju Island after making this flight. What a good news for me, I just imagined that I was in Jeju Island for vacation, enjoyed the beach and everything in that time (dreaming???? hehehe..). After having lunch, we went to the shopping center for a while and at 13.20 pm, we flight to Singapore. On the air plane, I have toke some pictures, how a great view is it??  Every human being should be thankful to Almighty Allah SWT who has created this world so perfect. In my point of view, we are nothing at this point, we are like a dust in the desert.
Grand Copthorne Waterfront Hotel
A few minutes later, my concern was turned to the Korean Airlines services regarding to the food I will eat during this journey. My friend asked to stewardess to provide my lunch menu, sea food and/or vegetarian menu, and then they gave me those menus. Of course, as a muslim, this kind of service is very important during trip to non-muslim country. By this way, I can avoid all foods containing meat or it's derivation. While I enjoyed my second lunch, I took to watch Korean film entitled Korea (코리아). This movie tells us how both South and North Korea table tennis athletes struggled together to achieve world championship by beating China in the final match. This film is starred by Ha Ji Won, senior movie player in Korea. It is very interesting film in my opinion as Korean drama in general. We can take many lessons by watching this movie. It showed that how good partnership, focus, and understanding each other can be very strong weapon to defeat opponent and to achieve very important thing in life.
My poster & I
Finally, after about 6 hours flying, we arrived in Singapore. We used shuttle bus provided by the travel to catch to Grand Copthorne Waterfront Hotel, the place where the conference organized. Because of very tired trip, we directly slept.
Marlion Park
On first day of conference, my friends and I looked for the seminar hall and poster area to attach our poster. For your information, this conference is very high level. That's why the committee only received poster presentation. Oral presentation was only conducted for companies which funded the seminar such as BGI, Illumina, Affymetrix, Temasek, BioLabs, Keygene and other molecular biology companies. Also, some laboratories of university in Asia gave oral presentation. In my opinion, if we want to give a talk at this kind of conference, we should publish our research in Nature, Science, PNAS, PlosOne and some others high impact factor journal. It becomes big problem for small budget laboratory in the university to participate. We need very good experiment, big data set, and also excellent writing skills to publish in those kinds of journals.
On the second day, I wore Indonesian "Batik" in order to participant from Indonesia can identify me. This way was effectively work on it. I met all Indonesia's participants that day.
Indonesian Participant in PAG Asia 2013
We shared many things regarding development of genomic experiment in Indonesia. Interestingly, most of Indonesian participants attended in this conference did not represent Indonesia's institution. In details, one student represented University of Illinois (USA), two researchers represented an institution in Philippine, a researcher from Orion Genomics (USA), two researchers from Bogor Agricultural University (IPB), and I who represented Chungnam National University (South Korea). Big question for me, where are Indonesian researchers in genomic field? Why are they very small number? Hopefully, someone can answer my question someday...
Me, Nu Ri, My Professor, Dongwon
Because of lack session related our field, we only attended the morning session on the second day of conference. In the afternoon, we went to Newton food center for enjoying Singapore cuisine with my professor colleagues. I was little bit surprised because we should pay about 200 Singapore dollars for two kg of crap, fried noodle, "cah kangkung" and rice. What an expensive price is it? Fortunately, my professors and colleagues paid it. I had free time in the evening. I persuaded my friends to have a walk, and we decided to go to Marlion Park, the place must be visited in Singapore. We needed 45 minutes to reach the location from the hotel by foot. Upon arrival at the site, we took some photos for documentation. Before we got back to the hotel for a rest, we also visited Marina Bay Sands for window shopping. I suggest that don't visit this place if you don't bring much money, because the price is very very very expensive. It will be big problem for our wallet :D
Marina Bay Sands
Final day of conference, 19 March, had only morning session. We had one more free time after lunch. My friends and I decided to stay in the hotel after check out, while my professor went out site with his friend, a professor from Chonbuk National University. While waiting in the hotel, I had opportunity to meet and discuss with Dr. Arif (Orion Genomics, USA). Hopefully, I have research collaboration with him in the future aamiin..
Dr. Arif & I

Overall, I got very much knowledge by attending this conference. It has made me aware that I should  improve my capability in genomic field in order to achieve my dream and also to spread my knowledge to the Indonesian society in the future..

Wednesday, November 9, 2011

Ilmu dan Teknologi Pengolahan Susu & Telur

Mata kuliah ini membahas mengenai definisi susu dan telur, struktur dan komposisi susu dan telur, kualitas susu dan telur, nutrisi susu dan telur, pengawetan dan pengolahan susu & telur. Mata kuliah ini terdiri dari 3 SKS dengan rincian 2 SKS teori dan 1 SKS praktikum. Dosen pengampu pada semester ganjil 2010 adalah Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech. dan Ir. Pudjomartatmo, M.P.
Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech akan menyampaikan materi susu dan olahannya, sedangkan Ir. Pudjomartatmo, M.P akan menyampaikan materi telur dan olahannya.
Pengantar susu dapat didownload di sini
Dairy Starter & Fermentation dapat didownload di sini
Produk Susu Fermentasi dapat didownload di sini
 
Produk Keju, Krim, Butter dan Ice Cream dapat didownload di sini

Monday, October 24, 2011

Pangan dan Gizi Hasil Ternak

Mata Kuliah ini membahas tentang pentingnya pangan dan gizi yang meliputi karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin, serta membahas tentang nilai nutrisi dan AKH dari produk hasil ternak dan pengolahan hasil ternak dan hubungan gizi hasil ternak terhadap kesehatan. Mata kuliah ini memiliki bobot 2 SKS dan diselenggarakan pada semester ganjil, dengan dosen pengampu Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech. dan Yuli Yanti, S.Pt., M.Si.
Materi kuliah:
Pengertian Pangan dan Gizi dapat didownload di sini
Nilai Gizi, AKH, AKG dapat didownload di sini
Materi Karbohidrat dapat didownload di sini
Materi kuliah Protein dapat didownload di sini

Tuesday, October 18, 2011

Syukuri apa yang dimiliki


Husbands Dream

Aku Terpaksa Menikahinya.....

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Wednesday, March 16, 2011

Dasar Teknologi Hasil Ternak (DTHT) SKS 2-0

Mata Kuliah Dasar Teknologi Hasil Ternak (DTHT) membahas tentang prinsip dasar pengolahan hasil ternak yang meliputi susu, daging, telur, kulit dan hasil sisa lainnya. Mata kuliah ini memiliki bobot 2 SKS dan diselenggarakan pada semester genap pada Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Solo. Adapun dosen pengampu mata kuliah DTHT adalah (1) Ir. Pudjomartatmo, M.P. yang akan menyampaikan prinsip pengolahan kulit dan terapannya, (2) Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech., yang akan menyampaikan materi prinsip pengolahan susu dan telur serta terapannya, dan (3) Winny Swastike, S.Pt., M.P., yang akan menyampaikan prinsip pengolahan daging dan terapannya.

Bahan ajar Susu dapat didownload di sini 
Bahan ajar Telur (komposisi, kualitas dan pengawetan telur) dapat didownload di sini

MIKROBIOLOGI PETERNAKAN

Mata kuliah ini mempelajari tentang klasifikasi dan karakteristik mikrobia, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikrobia, kontaminasi mikrobia, jenis-jenis mikrobia pada bahan pangan hewani, efek mikrobia terhadap bahan pangan hewani, biodegradasi dan biodetorasi, toxin mikrobia, inhibitor enzimatis dan kegunaannya, analisis dan deteksi mikrobia, produksi enzim mikrobia, teknologi enzim dan terapannya pada bidang peternakan.

Mata kuliah ini akan disampaikan oleh Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech. dan Adi Magna P.N., S.Pt., M.P.

Materi kuliah Pengantar Mikrobiologi umum dapat didownload di sini
Materi kuliah Klasifikasi, Identifikasi dan Karakterisasi Mikrobia dapat didownload di sini
Materi kuliah mengenai Struktur Sel Mikrobia dapat didownload di sini dan di sini
Materi kuliah Nutrisi dan Pertumbuhan Mikrobia dapat didownload di sini
Materi kuliah Metabolisme I: Katabolisme dapat didownload di sini
Materi kuliah Metabolisme I: Anabolisme dapat didownload di sini
Materi kuliah Analisis dan Deteksi Mikrobia dapat didownload di sini
Materi kuliah Pengantar Bioteknologi Mikrobia dapat didownload di sini
Materi kuliah Terapan Mikrobiologi pada Bidang Pangan dapat didownload di sini

Friday, March 11, 2011

Pengawasan Mutu Hasil Ternak

Pengawasan Mutu Hasil Ternak (PMHT) merupakan mata kuliah pilihan yang diselenggarakan oleh Lab. Industri Pengolahan Hasil Ternak Jurusan Peternakan Universitas Sebelas Maret. Bobot SKS mata kuliah PMHT adalah 2-0 yang diselenggarakan setiap semester genap. Mata kuliah PMHT akan disampaikan oleh Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech., dan Winny Swastike, S.Pt., M.P.

Materi kuliah Sistem Pengawasan Mutu Obat dan Makanan dapat didownload di sini  
Materi kuliah Good Farming Practices dapat didownload di sini 


Materi kuliah Good Manufacturing Practices dapat didownload di sini
Materi kuliah HACCP pada Makanan dapat didownload di sini


Bioteknologi Peternakan

Mata kuliah ini akan disampaikan oleh Sigit Prastowo, S.Pt., M.Si., Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech., dan Ahmad Pramono, S.Pt., M.P.

Materi kuliah pengantar bioteknologi dan PCR dapat didownload di sini
Materi Kuliah Rekayasa Genetik dan Gen Mapping dapat didownload di sini